METODE KISAH
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar......................................................................................................
ii
Daftar isi...............................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah......................................................................................
2
C. Tujuan Pembahasan...................................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Kisah...........................................................................
3
B. Langkah-Langkah Metode Kisah...............................................................
6
C. Kelebihan dan Kekurangan Metode Kisah.................................................
8
D. Cara Mengatasi Kekurangan/Pengembangan dalam Pembelajaran PAI.... 9
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan...............................................................................................
10
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Metode
dalam pendidikan Islam mempunyai peranan penting dalam mewujudkan tujuan yang
diciptakan bersama.Karena itu metode menjadi sebuah sarana yang bermakna dalam
menyajikan pelajaran, sehingga dapat membantu siswa memahami bahan-bahan
pelajaran untuk mereka.
Pada
titik awal ini sudah terdapat perbedaan besar antara pendidikan Islam dengan
metode pendidikan Barat yang dianggap sebagai metode pendidikan modern itu.Metode
pendidikan Islam sangat. Menghargai kebebasan individu, selama kebebasan itu
sejalan dengan fitrahnya, sehingga seorang guru dalam mendidik tidak dapat
memaksapeserta didiknya dengan cara yang bertentangan dengan fitrahnya. Akan
tetapi sebaliknya guru dalam membentuk karakter peserta didiknya.Dia tidak
boleh duduk diam sedangkan peserta didiknya memilih jalan yang salah.
Upaya
guru dalam memilih metode yang tepat dalam mendidik peserta didiknyaadalah
disesuaikan pula dengan tuntutan berhadapan dengan peserta didiknya ia harus
mengusahakan agar pelajaran yang diberikan kepada peserta didiknya itu supaya
mudah diterima, tidaklah cukup dengan bersikap lemah lembut saja. Ia harus
memikirkan metode-metode yang akan digunakannya, seperti memilih waktu yang
tepat, materi yang cocok, pendekatan yang baik, efektifitas penggunaan metode
yang baik dan sebagainya. Untuk itu
seorang guru dituntut agar mempelajari berbagai metode yang digunakan dalam
mengajarkan suatu mata pelajaran seperti bercerita dan mempelajari
prinsip-prinsip metodologi dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.[1]
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembahasan ini
yaitu antara lain:
1. Apa Pengertian Metode Kisah?
2. Bagaimanakah Langkah-Langkah Metode Kisah?
3. Apa saja Kelebihan dan Kekurangan Metode Kisah?
4. Bagaimana Cara Mengatasi Kekurangan/Pengembangannya dalam Pembelajaran
PAI?
C.
Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan
pembahasan antara lain:
1.
Menjelaskan apa pengertian metode kisah.
2.
Memaparkan bagaimana langkah-langkah metode kisah.
3.
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan metode kisah.
4.
Untuk menjelaskan bagaimana cara mengatasi kekurangan/pengembangan
metode kisah dalam pembelajaran PAI.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Metode Kisah
Metode kisah disebut juga metode
cerita yakni cara mendidik dengan mengandalkan bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan menyampaikan
pesan dari sumber pokok sejarah islam, yakin Al-qur’an dan Hadits.
Metode kisah mengandung arti suatu
cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis
tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal baik yang sebenarnya terjadi ataupun
hanya rekaan saja. Metode kisah merupakan salah satu metode yang mashur dan
terbaik, sebab kisah ini mampu menyentuh jiwa jika didasarkan oleh ketulusan
hati yang mendalam.[2]
Metode
cerita atau kisah adalah pendidikan dengan membacakan sebuah cerita yang
mengandung pelajaran baik.Dengan metode ini, peserta didik dapat menyimak
kisah-kisah yang diceritakan oleh guru, kemudian mengambil pelajaran dari
cerita tersebut.[3]
Metode
mendidik dengan bercerita yaitu dengan mengisahkan peristiwa hidup sejarah
manusia masa lampau yang menyangkut ketaatannya dan kemungkarannyadalam hidup
terhadap perintah dan larangan Tuhan yang dibawakan nabi atau rasul yang hadir
di tengah mereka. Misalnya sebuah ayat yang mengandung nilai pendagogis dalam
sejarah digambarkan Tuhan sebagai berikut:
ôs)s9c%x.ÎûöNÎhÅÁ|Ás%×ouö9ÏãÍ<'rT[{É=»t6ø9F{$#3$tBtb%x.$ZVÏtn2utIøÿã`Å6»s9urt,ÏóÁs?Ï%©!$#tû÷üt/Ïm÷yt@ÅÁøÿs?urÈe@à2&äóÓx«YèdurZpuH÷quur5Qöqs)Ïj9tbqãZÏB÷sãÇÊÊÊÈ
Artinya: “Sesungguhnya
di dalam kisah-kisah terdapat ibarat bagi orang yang berakal” (Q.S
Yusuf:111).
ß`øtwUÈà)tRy7øn=tãz`|¡ômr&ÄÈ|Ás)ø9$#!$yJÎ/!$uZøym÷rr&y7øs9Î)#x»ydtb#uäöà)ø9$#bÎ)ur|MYà2`ÏB¾Ï&Î#ö7s%z`ÏJs9úüÎ=Ïÿ»tóø9$#ÇÌÈ
Artinya: “Aku
menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini
kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum “Aku mewahyukan” adalah termasuk
orang-orang yang melupakan.” (Q.S Yusuf:3).[4]
Metode
cerita banyak terdapat di dalam Al-Qur’an, yang tujuan pokoknya adalah untuk
menunjukkan fakta kebenaran.Kebanyakan dalam surah Al-Qur’an terdapat cerita
tentang kaum terdahulu baik dalam makna sejarah yang positif maupun negative.
Terdapat 30 surah yang dinamakan menurut tema pokok cerita didalamnya, seperti
surah Yusuf, Surah Ibrahim, Surah Bani Israel, Surah Jinn, Surah Al Kahfi,
Surah Hud, Surah Yunus, Surah Maryam, Surah Luqman, Surah Muhammad, dan Surah
Al Fiil. Di antaranya mengandung cerita yang sepenuhnya bertemakan pokok sesuai
tokoh yang diceritakan seperti Surah Yusuf.Sedang banyak yang lainnya hanya
berisikan salah satu pengulangan suatu tema cerita, misalnya cerita tentang Fir’aun
dan Nabi Musa disebutkan lebih kurang 18 surah.Cerita tentang bangsa-bangsa
(umat atau kaum) terdahulu tidak begitu diulang-ulang seperti cerita tentang
Bani Israel, Kaum Aad, dan kaum Tsamud.
Pengulangan
suatu cerita menunjukkan bahwa cerita tersebut amat besar bagi manusia untuk
dijadikan ingatan dan peringatan serta bahan pelajaran yang diambil hikmahnya
bagi kehidupan generasi berikutnya.Seluruh cerita dalam Al-Qur’an adalah
mengandung iktibar yang bersifat mendidik manusia.
Allah
memerintahkan manusia agar menceritakan kasus-kasus sejarah bangsa-bangsa yang
lampau agar dijadikan bahan pemikiran seperti firman-Nya:
öqs9ur$oYø¤Ï©çm»uZ÷èsùts9$pkÍ5ÿ¼çm¨ZÅ3»s9urt$s#÷zr&n<Î)ÇÚöF{$#yìt7¨?$#urçm1uqyd4¼ã&é#sVyJsùÈ@sVyJx.É=ù=x6ø9$#bÎ)ö@ÏJøtrBÏmøn=tãô]ygù=t÷rr&çmò2çøIs?]ygù=t4y7Ï9º©ã@sVtBÏQöqs)ø9$#úïÏ%©!$#(#qç/¤x.$uZÏG»t$t«Î/4ÄÈÝÁø%$$sù}È|Ás)ø9$#öNßg¯=yès9tbrã©3xÿtFtÇÊÐÏÈ
Artinya:
“….maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir” (Q.S
Al-A’raf: 176).
Dari
segi Psikologis, metode cerita mengandung makna reinforcement
(penguatan) kepada seseorang untuk bertahan uji dalam berjuang melawan
keburukan.Khusus bagi Nabi Muhammad cerita dalam Al-Qur’an adalah untuk
menguatkan tekad nabi dalam perjuangan melawan musuh-musuh, yaitu kaum kafir
dan musyrikin.[5]
B.
Langkah-Langkah Metode Kisah/Sejarah
Seorang guru
dalam mengajarkan sejarah dapat mengikuti prosedur berikut:
1.
Apersepsi
Guru
dapat memberikan apersepsi yang menarik perhatian anak untuk mendengarkan
cerita. Misalnya guru menggunakan metode tanya jawab.
2.
Penyajian
Guru
dalam menyajikan cerita sejarah hendaknya menggunakan gaya bahasa cerita, yaitu
ia harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.
Hendaknya guru menggunakan gaya bahasa yang menarik.
b.
Penyajian sejarah hendaknya secara periodisasi, yang setiap
periodenya merupakan bagian yang tak terpisahkan dan diselingi dengan
pertanyaan-pertanyaan untuk memantapkan isi pokok dari masing-masing periode.
c.
Menulis judul periode pada papan tulis sebelum atau sesudah
penyajian.
d.
Menuliskan nama-nama tokoh yang berperan dalam cerita yang
diuraikan, agar nama-nama tersebut menjadi ingatan pelajar dan memudahkan
mereka mengingatkannya.
e.
Dalam penyajian, guru harus memperhatikan usaha mengkongkretkan
pengertian melalui mimic dan pantomimic agar tergugah perasaan siswa untuk
mencintai dan meneladani tokoh pemeran sejarah tersebut.
3.
Korelasi
Menghubungkan
peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah dengan realisasi kehidupan
sekarang dan topik-topik pendidikan agama yang lain, ataupun dengan bidang
studi lainnyabila ada kesempatan.
Di
samping itu, guru juga harus mengaitkan sejarah dengan kehidupan modern, guna
menggerakkan kecenderungan yang kuat pada diri siswa untuk memiliki semangat
kehidupan masyarakat muslim yang sejahtera.
4.
Kesimpulan
Guru
menyuruh agar siswa-siswa mengulang cerita, dan menanyakan kepada mereka
peristiwa-peristiwa, periode demi periode. Setelah itu guru mencatat di papan
tulis pokok-pokok kesimpulan dari setiap periode sebagai ihtisar.Dalam hal ini
termasuk rangkuman-rangkuman nilai-nilai luhur, moral, dan ajaran-ajaran yang
berkesan dengan disertakan sedikit penjelasan tentang keteladanan serta
saran-saran yang berguna.
5.
Evaluasi
Guru
mengadakan diskusi dengan siswa mengenai semua materi yang baru diberikan untuk
mengetahui sampai dimana mereka dapat menguasai pelajaran, atau dapat juga
merekadisuruh menulis bagian-bagian pelajaran yang mengandung nilai moral, atau
mendramatisasikan di depan kelas atau di pentas yang tersedia, atau menyuruh
siswa menuliskan perasaa mereka terhadap tokoh sejarah dan sejauh mana mereka
terpengaruh dengan kepribadian dan tingkah laku tokoh tersebut. Dapat juga guru
menyuruh beberapa siswa mengulangi cerita tersebut dalam bentuk yang baik, yang
dapat merangsang semangat kompetisi positif dikalangan siswa sendiri.
6.
Alat-alat peraga
Hendaknya
guru menyiapkan bermacam-macam alat peraga dan menggunakannya bilamana perlu.
Dalam menguraikan peristiwa hijrah nabi misalnya, guru dapat menggunakan slide
atau film kalau tersedia, memperdengarkan rekaman tentang drama yang sering
diputar di pemancar radio pada hari-hari besar Islam seperti maulid, hijrah
ataupun Isra’ Mi’raj. Mungkin juga dapat diambilkan naskah/pita kaset dari
pemancar-pemancar yang ada.Atau salah seorang siswa disuruh merekamnya dari
salah satu pemancar yang dapat ditangkap di daerah tersebut.[6]
C.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Kisah
Kelebihan metode kisah yaitu antara
lain:
1.
Guru mudah menguasai kelas
2. Guru dapat
meningkatkan kosentrasi siswa dalam waktu yang relative.
3. Mudah
menyiapkannya.
4. Mudah
melaksanakannya.
5.
Dapat diikuti oleh siswa dalam jumlah banyak.
Kekurangan
metode kisah antara lain:
1. Siswa terkadang terbuai dengan jalannya cerita
sehingga tidak dapat mengambil intisarinya.
2. Hanya guru yang pandai bermain kata-kata atau kalimat.
3. Menyebabkan siswa pasif karena guru aktif.
4. Siswa lebih cenderung hafal isi cerita daripada sari
cerita yang dituturkan.
D.
Cara
Mengatasi Kekurangan/Pengembangan dalam Pembelajaran PAI
1.
Guru dapat Menyimpulkan intisari dari cerita tersebut dan meminta siswa
agar dapat menyimpulkan isi dari cerita tersebut, dengan metode ini diharapkan
bahwa siswa dapat memahami isi cerita dan intisari cerita tersebut dengan baik.
2.
Guru dapat membuat sesi tanya jawab agar membuat siswa menjadi aktif.
PENUTUP
A.
Simpulan
Metode mendidik
dengan bercerita yaitu dengan mengisahkan peristiwa hidup sejarah manusia masa
lampau yang menyangkut ketaatannya dan kemungkarannyadalam hidup terhadap
perintah dan larangan Tuhan yang dibawakan nabi atau rasul yang hadir di tengah
mereka.
Metode cerita
banyak terdapat di dalam Al-Qur’an, yang tujuan pokoknya adalah untuk
menunjukkan fakta kebenaran.Kebanyakan dalam surah Al-Qur’an terdapat cerita
tentang kaum terdahulu baik dalam makna sejarah yang positif maupun negative.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin,
Ilmu Pendidikan Islam (Tinjauan Teoritis dan Praktis berdasarkan Pendekatan
Interdisipliner), PT Bumi Aksara: Jakarta, 2009.
Armai Arief, Pengantar
Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,Ciputat Pers: Jakarta, 2002.
Muhammad
Abdul Qadir Muhammad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Rineka Cipta:
Jakarta, 2008.
Nurhasanah
Bakhtiar, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum, Aswaja
Pressindo: Yogyakarta, 2013.
Ramayulis,
Metodologi Pendidikan Agama Islam, Kalam Mulia: Jakarta, 2005.
[1] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Kalam Mulia:
Jakarta, 2005), cet V, hlm. 5.
[2]Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,(Ciputat
Pers: Jakarta, 2002), hlm. 160.
[3] Nurhasanah Bakhtiar, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi
Umum, (Aswaja Pressindo: Yogyakarta, 2013), hlm.182.
[4] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Tinjauan Teoritis dan Praktis
berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), (PT Bumi Aksara: Jakarta, 2009),
cet. IV, hlm. 71-72.
[6] Muhammad Abdul Qadir Muhammad, Metodologi Pengajaran Agama Islam,
(Rineka Cipta: Jakarta, 2008), hlm. 170-172.
ijin kutip definisi metode kisah dan referensinya.
ReplyDelete