METODE SIMULASI DAN PENGEMBANGANNYA DALAM PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
\
Daftar Isi
Halaman Judul
Kata Pengantar................................................................................................. ii
Daftar Isi.......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A.
Latar Belakang..................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................. 1
C. Tujuan Pembahasan.............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 3
A.
Pengertian Simulasi.............................................................................. 3
B.
Tujuan Simulasi.................................................................................... 4
C.
Rinsip-Prinsip Simulasi......................................................................... 5
D.
Bentuk-Bentuk Simulasi....................................................................... 6
E.
Langkah-langkah Pelaksanaan Simulasi............................................... 7
F.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Simulasi...................................... 8
G.
Pengembangan Simulasi dalam Pendidikan Agama Islam................... 9
H.
Aplikasinya........................................................................................... 15
BAB III PENUTUP........................................................................................ 17
A. Kesimpulan.......................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 18
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kegiatan belajar mengajar sangat bergantung
pada bagaimana seorang pendidik menyampaikan materinya. Berbagai materi dari
berbagai bidang studi memiliki konsentrasi keilmuan tersendiri. Untuk
mempermudah pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan, pendidik
biasanya menggunakan metode dalam penyampaian materi.
Salah satu usaha yang tidak pernah guru
tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu
komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata; dan
memang betul-betul dipikirkan oleh seorang guru[1].
Salah satu metode yang dikenal adalah metode
simulasi. Metode simulasi memang cukup terkenal di kalangan pendidikan. Namun,
karena simulasi memang cukup rumit digunakan, maka metode yang lain yang
digunakan. Untuk memperdalam pengetahuan dan aplikasi metode simulasi, dalam
makalah ini akan dibahas masalah metode simulasi agar para pendidik maupun
calon pendidik dapat dengan mudah menerapkan metode simulasi dalam proses
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Apa yang
dimaksud dengan metode simulasi?
2.
Apa
sajakah tujuan dari metode simulasi?
3.
Apa
sajakah prinsip-prinsip dari metode simulasi?
4.
Apa saja
bentuk-bentuk dari metode simulasi?
5.
Bagaimana
langkah-langkah metode simulasi?
6.
Apa saja
kelebihan dan kekurangan metode simulasi?
7.
Bagaimana
pengembangannya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam?
8.
Bagaimana
pengaplikasiannya saat ini?
C.
Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Menjelaskan
pengertian metode simulasi.
2.
Memaparkan
tujuan dari metode simulasi.
3.
Memaparkan
prinsip-prinsip dari metode simulasi.
4.
Menjelaskan
bentuk-bentuk dari metode simulasi.
5.
Menjelaskan
langkah-langkah metode simulasi.
6.
Memaparkan
kelebihan dan kekurangan metode simulasi.
7.
Menjelaskan
pengembangannya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
8.
Menjelaskan
pengaplikasian metode simulasi saat ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Simulasi
Wojowasito dalam kamusnya memberikan batasan
tentang simulasi, yaitu berasal dari kata “simulak”, yang artinya pura-pura
atau berbuat seolah-olah. Kata simulasi (simulation) diartikan: “tiruan atau
perbuatan yang pura-pura saja”. Seorang pendidik mensimulasikan sikap orang tua
yang otoritas, berarti pendidik itu menunjukkan pada eserta pendidiknya, cara
orang tua yang otoritas itu dalam menghadapi peserta didiknya dengan jalan
berbuat seolah-olah sebagai orang tua yang otoriter.
Simulasi
adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja (dari fakta simulate
yang artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah dan simulation artinya tiruan
atau perbuatan yang pura-pura saja.[2]
Paul A. Twelker lebih menekankan pada tujuan
yang dicapainya kegiatan dengan metode simulasi, yaitu ingin memperoleh esensi
atau hakikat sesuatu; seperti bagaimana orang lain merasa berbuat.
Taylor dan Rex Walfors mengemukakan bahwa
setiap bentuk kegiatan simulasi akan terjadi hal-hal sebagai berikut:
1.
Para
pemain memegang peranan yang mewakili dunia peranan yang mewakili dunia
kenyataan, dan juga membuat keputusa-keputusan dalam mereaksi penilaian mereka
terhadap setting yang mereka temukan sendiri.
2.
Mereka
mengalami perbuatan-perbuatan tiruan yang berhubungan dengan keputusan
–keputusan mereka.
3.
Mereka
monitor hasil-hasil kegiatan masing-masing dan diarahkan untuk merefleksi
terhadap hubungan atara keputusan-keputusan sendiri dan konsekuensi-konsekuensi
akhir dari berbagai perbuatan.
Dengan simulasi diharapkan, agar para
pelaku dapat memperoleh kecakapan bersikap dan bertindak yang sesuai dengan situasi
yang sebenarnya.
Jadi, metode simulasi ialah suatu
usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat dari sesuatu konsep atau prinsip,
atau suatu keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam
situasi tiruan.
B.
Tujuan Simulasi
Rumusan
tujuan simulasi merupakan pegangan bagi pendidik dalam memilih topic-topik dari
mata pelajaran yang diajarkan/disimulasikan, antara lain adalah:
1.
Tujuan Langsung
a.
Untuk melatih keterampilan tertentu, baik yang
bersifat professional maupun bagi kehidupan sehari-hari.
b.
Untuk memperoleh pemahaman tentang suatu konsep
atau prinsip.
c.
Untuk melatih memecahkan masalah.
2. Tujuan Tidak
Langsung
a. Untuk
meningkatkan aktivitas belajar dengan melibatkan dirinya dalam mempelajari
situasi yang hamper serupa dengan kejadian yang sebenarnya.
b. Untuk
memberikan motivasi belajar, karena sangat menarik dan menyenangkan peserta
didik.
c. Melatih
bekerjasama peserta didik dalam kelompok dengan lebih efektif.
d. Menimbulkaan
dan memupuk daya kreaktif peserta didik.
e. Melatih
pesera didik untuk memahami dan menghargai pendapat serta peranan orang lain.
C.
Prinsip-Prinsip
Simulasi
1. Simulasi
itu didlakukan oleh kelompok peserta didik, tiap kelompok mendapat kesempatan
melaksanakan simulasi yang sama atau dapat juga berbeda.
2. Semua
siswa harus terlibat langsung menurut peranan masing-masing.
3. Penentuan
topik disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelas, dibicarakan oleh siswa dan
guru.
4. Petunjuk
simulasi diberikan terlebih dahulu.
5. Dalam
kegiatan simulasi hendaknya mencakup:
a) Aspek cognitif:
pengetahuan, konsep dan pengertian.
b) Aspek efektif:
menyenangkan, mengharukan, solidaritas dan sebagainya.
c) Aspek psikomotor:
keterampilan bertanya, memimpin dan melakukan sesuatu
6. Harus
diingat bahwa simulasi adalah untuk latihan keterampilan agar dapat menghadapi
kenyataan dengan baik.
7. Pelakasanaan
simulasi harus menggambarkan situasi yang lengkap dan proses yang berurutan
yang diperkirakan terjadi dalam situasi yang sesungguhnya.
8. Dalam
kegiatan/pelaksanaan simulasi hendaknya dapat diusahakan terintergrasinya
beberapa ilmu terjadinya proses sebab akibat, pemecahan masalah dan sebagainya.
- Bentuk-Bentuk Simulasi
Simulasi
mempunyai bermacam-macam bentuk pelaksanaan ialah: pre-teaching, sociodrama,
psikodrama, simulasi game dan role playing[3].
1. Pre-
teaching
Berguna untuk latihan mengajar oleh calon
pendidik yang mana sebagai peserta didiknya adalah teman- teman calon pendidik
sendiri.
2. Sosiadrama
Permainan peranan yang diselenggarakan
dimaksudkan untuk menentukan alternatif pemecahan sosial. Malahan hubungan
saudaranya atau dengan orang tuanya.
3. Psikodrama
Permainan peranan yang diselenggarakan
dimaksudkan agar individu yang bersangkutan memperoleh pemahaman yang lebih
baik tentang dirinya, menemukan konsep diri, dapat menyatakan reaksinya
terhadap tekanan-tekanan yang menimpa dirinya. Jadi tujuan psikodarma dilakukan
untuk maksud terapi.
4. Simulasi
game
Adalah
permainan peranan dimana para pemainnya berkompetensi untuk mencapai tujuan
tertentu dengan mentaati peraturan-peraturan yang ditetapkan.
5. Role
playing
Permainan
peranan yang diselenggarakan untuk mengkreasi kembali pristiwa-pristiwa
sejarah, mengkreasi kemungkinan masa depan, mengekspose kejadian-kejadian masa
kini dan sebagainya.
E.
Langkah-langkah Pelaksanan Simulasi
Proses simulasi tergantung pada peran
guru/fasilitator. Ada empat prinsip yang harus dipegang oleh fasilitator/guru. Pertama, adalah penjelasan. Untuk
melakukan simulasi, pemain harus benar-benar memahami aturan main. Oleh karena
itu, guru/fasilitator hendaknya memberikan penjelasan dengan sejelas-jelasnya
tentang aktivitas yang harus dilakukan berikut konsekuensi-konsekuensinya.
Kedua, adalah mengawasi (refereeing).
Simulasi dirancang untuk tujuan tertentu dengan aturan dan prosedur main
tertentu. Oleh karena itu guru/fasilitator harus mengawasi proses simulasi
sehingga harus berjalan sebagimana seharusnya.
Ketiga, adalah melatih (coaching).
Dalam simulasi, pemain/peserta akan mengalami kesalahan. Oleh karena itu,
guru/fasilitator harus memberikan saran, petunjuk, atau arahan sehingga
memungkinkan mereka tidak melakukan kesalahan yang sama.
Keempat, adalah diskusi. Dalam simulasi, refleksi menjadi sangat penting.
Oleh karena itu, setelah simulasi selesai, fasilitator/guru mendiskusikan hal,
seperti:
1.
Seberapa
jauh simulasi sudah sesuai dengan situasi nyata (real world);
2.
Kesulitan-kesulitan;
3.
Hikmah apa
yang diambil dari simulasi; dan
4.
Bagaimana
memperbaiki/meningkatkan kemampuan simulasi, dan lain-lain.
Untuk tahapan pelaksanaan
simulasi adalah sebagai berikut:
1.
Tahap pertama, pembelajaran
simulasi adalah menyiapkan siswa menjadi pemeran simulasi;
2.
Tahap kedua, guru menyusun
skenario dengan memperkenalkan siswa terhadap aturan, peran, prosedur, pemberi
skor (nilai), tujuan permainan lain-lain. Guru mengatur siswa untuk memegang
peran-peran tertentu dan mengujicobakan simulasi untuk memastikan bahwa seluruh
siswa memahami prosedur dan aturan main simulasi tersebut;
3.
Tahap ketiga, adalah
pelaksanaan dari simulasi itu sendiri. Siswa berpartisipasi dalam permainan
atau simulais, sementara guru memainkan perannya. Pada saat-saat tertentu,
kemungkinan ada interupsi apabila terjadi kesalahpahaman sehingga proses
simulasi dapat berjalan kembali seperti seharusnya;
4.
Tahap terakhir adalah debriefing. Guru mendiskusikan tentang
beberapa hal seperti yang telah dijelaskan diatas[4].
F.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Simulasi
1.
Kelebihan
Simulator memiliki
banyak kelebihan, diantaranya ialah:
a.
Siswa
dapat mempelajari sesuatu yang dalam situasi nyata yang tidak dapat dilakukan
karena kerumitannya atau karena faktor lain seperti risiko kecelakaan, bahaya,
dan lain-lain;
b.
Memungkinkan
siswa belajar dari umpan balik yang datang dari dirinya sendiri[5].
Simulasi memiliki kelebihan lain, yaitu:
a.
Aktivitasi
simulasi menyenangkan peserta didik sehingga peserta didik secara wajar
terdorong untuk partisipasi;
b.
Strategi
ini menggalakan pendidik untuk mengembangkan aktivitas-aktivitas simulasi
sendiri tanpa bantuan peserta didik;
c.
Memungkinkan
eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya.
d.
Mengurangi
hal-hal yang terlalu abstrak, sebab dikerjakan dalam bentuk aktivitas.
e.
Tidak
memerlukan skil komunikasi yang pelik, dalam banyak hal peserta didik hanya
memerlukan pengarahan yang simpel.
f.
Interaksi
antara peserta didik memungkinkan timbulnya keakraban dan keutuhan yang sehat
antara mereka.
g.
Strategi
ini menimbulkan respon yang positif dari peserta didik yang lamban, kurang
cakap dan kurang motivasinya.
2.
Kelemahan
a.
Efektivitasnya
dalam memajukan proses belajar belum bisa dilaporkan oleh riset;
b.
Terlalu
mahal misalnya membuat simulasi hanya untuk memotivasi;
c.
Dalam
simulasi sering tidak diikutkan elemen-elemen penting, contoh: menyetir mobil
(simulasi) tidak menyertakan lalulintass lainya, suara dan tanda-tanda
lalulintas yang dijelaskan;
d.
Simulasi
menghendaki pengelompokan peserta didik yang fleksibel;
e.
Simulasi
menghendaki banyak imajinasi dari peserta didik dan pendidik;
f.
Sering
mendatagkan kritik dari orang tua karna aktivitas ini melibatkan permainan[6].
G.
Pengembangannya dalam Pendidikan Agama Islam
Sesuai
bentuk-bentuk simulasi di atas, setelah melakukan analisis terhadap Standar
Kompetensi Pendidikan Agama Islam yang terdapat dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional no 22 tahun 2006 tentang Standar isi satuan Pendidikan
dasar dan menengah Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia no 2 tahun 2008
tentang standar kompetensi Lulusan dan Standar isi Pendidikan Agama Islam dan
bahasa Arab di Madrasah, maka ada beberapa indikator pendidikan agama Islam
yang dapat dicapai dengan metode simulasi, seperti terdapat SK/KD Sejarah
Kebudayaan Islam dan Aqidah Akhlak. Bebrapa contoh Kompetensi dasar PAI di
madrasah tsanawiyah adalah:
1.
Meneladani semangat para tokoh yang
berperan dalam perkembangan Islam di Indonesia
2.
Meneladani sikap keperwiraan
shalahuddin al-Ayyubi dalam kemajuan peradaban Islam pada masa dinasti
al-ayyubiyah
3.
Meneladani ketekunan dan kegigihan bani
Abbasiyah
4.
Meneladani kesederhanaan dan keshalehan
Umar bin abdul Aziz
5.
Meneladani perjuangan nabi dan para
sahabat dalam menghadapi masyarakat makkah
6.
Simulasi penyelenggaraan jenazah
7.
Simulasi tatacara pinjam meminjam,
utang piutang, gadai, borg, serta pemberian upah menurut Islam
8.
Simulasi Pelaksanaan jual beli menurut
Islam
9.
Simulasi tata cara pelaksanaan qurban
dan kekah
10.
Simulasi pelaksanaan ibadah haji dan
Umrah
11.
Simulasi Pelaksanaan zakat fitrah dan
zakat mal
12.
Simulasi Perilaku kerja keras, kreatif
dan produktif dalam kehidupan sehari-hari
13.
Sejarah kebudayaan Islam
14.
Abrahah yang sombong, dan lain-lain.
Beberapa
contoh topik di atas menurut penulis dapat dilakukan dengan metode simulasi
dengan digabungkan dengan beberapa metode lain. Sehingga pembelajaran itu dapat
dilaksanakan oleh peserta didik sesuai dengan kehidupan nyata. Namun
tentu saja dalam pelaksanaannya perlu persiapan dan diskusi yang lebih mendalam
sesuai teori simulasi dan ruanglingkup topik yang akan di bahas.
Sebuah
contoh sosiodrama yang masih ada hubungannya dengan sejarah Kebudayaan Islam
sebelum lahirnya nabi Muhammad SAW, tentang “Abrahah yang sombong” dapat
penulis kemukakan, sebagaimana yang ditulis oleh Munif Chatib: seorang peserta
didik yang ditunjuk menjadi host membacakan skenario berikut:
“Matahari hampir
terbenam, ketika kelelahan memuncak pada semua anggota pasukan yang sudah
berjalan berhari-hari. Ringkikan kuda yang ingin beristirahat, lenguhan pasukan
gajah yang mulai gelisah, ,membuat jendera Abrahah, pemimpin pasukan itu,
memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di sebuah lembah di padang pasir
hijaz”.
Lalu
Abrahah memberi instruksi kepada pengawalnya;
“Pengawal,
perintahkan kepada semua pasukan, untuk berhenti, kita akan membuka tenda dan
bermalam di sini. Amankan pasukan gajah kita yang mulai gelisah sebab
binatang-binatang itu kelak yang akan menghancurkan ka’bah. Esok pagi kita akan
melanjutkan perjalanan. Makkah sudah dekat, hanya tinggal setengah hari
perjalanan. Cepat pengawal, segera kerjakan.”
“Baik paduka secepat kilat hamba laksanakan”
Jawab pengawal sambil menundukkan kepala. Lalu:
“Hai .. Abrahah!
Majulah dengan pasukan gajahmu itu, kami penduduk makkah yang mencintai ka’bah
akan melawan dengan pasukan-pasukan Allah”
Teriak
peserta didik yang berperan sebagai penduduk makkah ketika melakukan metode
sosiodram yang merupakan bagian dari bentuk simulasi.
“Interupsi, masak
Abrahah ngomongnya pelan kayak putri salju, semangat dong…kan dia jenderal
besar!”
interupsi
dari salah satu peserta didik yang menonton kala mendengar suara abrahah yang
sangat pelan. Interupsi ini diiringi derai tawa siswa seisi kelas, tercipta
emosi positif dalam kelas tersebut.
“Hei Abrahah..
ngapain sih pake pergi ke Makkah menghancurkan ka’bah?kenapa sish tidak
membangun ka’bah sendiri di Yaman sana?” tanya siswa penonton.
“ah, percuma… saya
sudah coba berkali-kali, ..gagal terus. Habis di yaman sepi, nggak ada orang
datang, tidak seperti di Makkah yang selalu ramai didatangi orang” sang Abrahah menjawab
lantang.
Tokoh-tokoh
dalam drama tersebut dimainkan oleh beberapa peserta didik dengan redaksi
skenario yang sudah disiapkan oleh guru. Ada yang menjadi Abrahah gubernur
Yaman yang berniat menghancurkan ka’bah. Abdul Muthalib, pemimpin Makkah pada
saat itu, ada juga kurir, pemuka-pemuka makkah lainnya. Kemudia adalagi peran
utama yang cukup penting dan berfungsi sebagai “Cutter” atau pemutus
cerita, biasanya disebut “Host” (pengantar cerita).
Kepada
beberapa siswa yang tidak dapat peran, dibagaikan secarik kertas berisi
pertanyaan dan masalah yang terkait dengan materi perang gajah tersebut.
sebagai penonton, para siswa dapat menginterupsi saat drama berlangsung, baik
untuk bertanya maupun memberikan opini, persis seperti Lenong Betawi atau Opera
Van Java[7].
Contoh
Materi lain yang dapat digunakan dengan metode Simulasi – sosiodrama-
dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dapat dilihat Adegan tentang
Perang Khandaq: dalam suatu ruangan di Darul Nadwan, berkumpullah orang-orang
musyrik, di antar mereka ada Abu Syufian. Bersama mereka ada seorang pemimpin
Yahudi Bani Nadhir yaitu Huyay bin Akhtab dan beberapa orang Yahudi lainnya.
Abu Sufyan :
|
Wahai orang Quraisy, apakah kamu telah mendengar berita
yang disampaikan pemimpin Bani Nadhir yaitu Huyaybin Akhtab, mengenai ancaman
dan bahaya yang dihadapi oleh kaumnya karena ulah Muhammad dan
sahabat-sahabatnya? Beliau meminta bantuan kalian , sebagaimana
akan kalian dengar sendiri nanti. Maksudnya tidak lain ialah
untuk mengingatkan kalian terhadap bahaya ancaman Muhammad
dan sahabat-sahabatnya kepada kalian. Nah ..silakan tuan Huyay
ceritakan kepada mereka. Katakanlah apa yang terkandung
dalam hati anda.
|
Huyay
:
|
Saya ini bukanlah sendirian wahai Abu Sufyan. Bersamaku
ada sekelompok saudara-saudaraku yang sesuku. Ini adalah Salmam Al-Nadhariy
dan ini Kinanah bin Rabi’ dan itu Hudzah bin Qus. Semua mereka itu akan
menceritakan ancaman dan bahaya yang akan ditimpakan oleh Muhammad kepada
kami.
|
Sallam
:
|
: Anda sajalah yang menceritakan, hai Huyay, karena Anda
lebih pantas menerangkannya kepada orang-orang Quraisy.
|
Huyay
:
|
Wahai orang-orang Quraisy, kalian adalah pemimpin dan
panglima-panglima bangsa Arab. Tidaklah bijaksana sedikitpun, bila kalian
membiarkan bahaya Muhammad semakin memuncak dan kekuatannya semakin mantab,
sehaingga ia berani menyerang dan membunuhmu di rumahmu sendiri.
|
Musyrik
I :
|
Saya sependapat dengan apa yang dikemukakan pemimpin Bani
Nadhir ini. Oleh karena itu pikirkanlah sebaik-baikny tindakan apa yang harus
di ambil. Saya sependapat dengan apa yang dikemukakan pemimpin Bani Nadhir
ini. Oleh karena itu pikirkanlah sebaik-baikny tindakan apa yang harus di
ambil.
|
Musyrik
II :
|
Bagaimana pendapat Anda, Huyay?
|
Huyay
:
|
Sikap saya sama dengan sikap-sikap Anda. Saya hanya ingin
agar kalian hidup dalam keadaan aman dan sejahtera. Saya berharap agar kalian
dapat mengambil inisiatif di kalangan kabilah-kabilah Arab lainnya kami
Bani Nadhir akan menanti di tangan kaalian.
|
Kinanah
bin Rabi’ :
|
Benar demi Allah,memang mereka lebih panas dari bara api.
Mereka akan berada di samping kalian sampai mati atau Muhammad dan
pengikut-pengikutnya lenyap dari muka bumi.
|
Musyrik
III :
|
Wahai Huyay, bagaimana pendapatmu, apakah agama kami yang
lebih baik atau agama Muhammad?
|
Huyay
:
|
Agamamu
lebih baik dari pada agama Muhammad.
|
Abu Sufan :
|
Ya, memang benar perkataan Tuan. Wahai, orang-orang
Quraisy. Sudah tiba saatnya kepada kalian untuk membantu orang yang meminta
pertolongan kepada kalian.
|
Musyrik IV :
|
Sungguh benar Anda, hai Abu Sufyan. Oleh karena itu
umumkanlah kepada rakyat kita untuk mempersiapkan diri dengan alat
persenjataannya.
|
Abu Sufyan
|
Ya baiklah demi Tuhan Ka’bah.
|
Huyay
:
|
Wahai Abu Sufyan, kami akan mengajak lagi beberapa kabilah
Arab untuk mendampingi kalian, sampai kalian mengalahkan si Muhammad.
|
Abu Sufyan :
|
Kalau demikian akan berkumpul di pihak kita tentara yang
tidak mungkin diimbangi Muhammaad. Dia akan kalah dan akan musnah tanpa
bekas.
|
Huyay
:
|
Sebenarnyalah ini yang saya inginkan dan
harap-harapkan, semoga berhasil. Walaupun demikian kebijakasanaan
pada orang-orang aQuraisy. Semangat para pemuda dan rasa bertanggung jawabnya
terhadap kelangsungan agama nenek moyang mereka.
|
Musyrik :
|
Demi Tuhan Ka’bah, sungguh benar demikian. Kita
benar-benar menanti hari seperti ini.
|
Abu Sufyan :
|
Marilah kita mempersiapkan perbekalan dan alat
persenjataan.
|
Musyrik I :
|
Sungguh tepat. Si Muhammad tidak akan lolos dari
tangan kita untuk selama-lamanya.
|
Hadirin semua
tertawa : Ha…ha…ha…, kemudian mereka keluar ruangan.
H.
Aplikasi
Permainan simulasi dapat merangsang berbagai
bentuk belajar, seperti belajar tentang kompetisi, kerjasama, empati, social,
konsep, keterampilan, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan
lain-lain.
Namun, metode ini agak rumit, tergantung
pada pengembangan simulasi yang tepat, baik yang melibatkan peneliti,
pengembang (sistem analisis, programmer, dan lain-lain), perusahaan komersial,
guru atau kelompok guru, dan lain-lain. Dewasa ini dengan semakin majunya
teknologi informasi dan komunikasi telah tersedia banyak permainan simulasi
mrncakup berbagai kebutuhan dan topic dari berbagai disiplin ilmu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Metode simulasi adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja
(dari fakta simulate yang artinya
pura-pura atau berbuat seolah-olah dan simulation
artinya tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja). Simulasi digunakan agar
peserta didik dapat menguasai suatu keterampilan tertentu dan memahaminya
karena peserta didik mempraktikannya sendiri dengan alat-alat yang telah
disediakan oleh pendidik sebagai fasilitator.
Ada
beberapa bentuk dari metode simulasi, antara lain: role playing, psikodrama, sosiodrama, simulation game, dan pre-teaching.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengajar, Rineka
Cipta: Jakarta, 2010.
Hasibuan, Moedjiono, Proses
Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya: Bandung, 2002.
N. K. Rostiyah, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta:
Jakarta, 2008.
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Kalam
Mulia: Jakarta, 2005.
Uno, Hamzah B., Model Pembelajaran, Bumi Aksara:
Jakarta, 2012.
http://www.charlesmalinkayo.com/2012/11/penggunaan-metode-simulasi-dalam.html oleh: Charles Malin Kayo,
13-03-2015 pukul: 19.45
[1] Syaiful Bahri Djamarah,
Strategi Belajar Mengajar, (Rineka Cipta: Jakarta, 2010), hlm. 72
[2] Hasibuan dam Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Remaja
Rosdakarya: Bandung, 2002), cet, ix, hlm 27-29.
[3] Rostiyah N. K., Strategi
Belajar Mengajar, (Rineka Cipta: Jakarta, 2008), cet. VII, hlm. 22.
[4] Hamzah B. Uno, Model
Pembelajaran, (Bumi Aksara: Jakarta, 2012), hlm. 29-30.
[5] Ibid., 29
[6] Ramayulis, Metodologi
Pendidikan Agama Islam, (Kalam Mulia: Jakarta, 2005), hlm.381-386.
[7] http://www.charlesmalinkayo.com/2012/11/penggunaan-metode-simulasi-dalam.html oleh: Charles Malin Kayo,
13-03-2015 pukul: 19.45
No comments:
Post a Comment