Wednesday, 10 June 2015

METODE SIMULASI DAN PENGEMBANGANNYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM



METODE SIMULASI DAN PENGEMBANGANNYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
\
Daftar Isi

Halaman Judul
Kata Pengantar................................................................................................. ii
Daftar Isi.......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A.    Latar Belakang..................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................. 1
C.     Tujuan Pembahasan.............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 3
A.    Pengertian Simulasi.............................................................................. 3
B.     Tujuan Simulasi.................................................................................... 4
C.     Rinsip-Prinsip Simulasi......................................................................... 5
D.    Bentuk-Bentuk Simulasi....................................................................... 6
E.     Langkah-langkah Pelaksanaan Simulasi............................................... 7
F.      Kelebihan dan Kekurangan Metode Simulasi...................................... 8
G.    Pengembangan Simulasi dalam Pendidikan Agama Islam................... 9
H.    Aplikasinya........................................................................................... 15
BAB III PENUTUP........................................................................................ 17
A.    Kesimpulan.......................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 18










BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kegiatan belajar mengajar sangat bergantung pada bagaimana seorang pendidik menyampaikan materinya. Berbagai materi dari berbagai bidang studi memiliki konsentrasi keilmuan tersendiri. Untuk mempermudah pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan, pendidik biasanya menggunakan metode dalam penyampaian materi.
Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata; dan memang betul-betul dipikirkan oleh seorang guru[1].
Salah satu metode yang dikenal adalah metode simulasi. Metode simulasi memang cukup terkenal di kalangan pendidikan. Namun, karena simulasi memang cukup rumit digunakan, maka metode yang lain yang digunakan. Untuk memperdalam pengetahuan dan aplikasi metode simulasi, dalam makalah ini akan dibahas masalah metode simulasi agar para pendidik maupun calon pendidik dapat dengan mudah menerapkan metode simulasi dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).


B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan metode simulasi?
2.      Apa sajakah tujuan dari metode simulasi?
3.      Apa sajakah prinsip-prinsip dari metode simulasi?
4.      Apa saja bentuk-bentuk dari metode simulasi?
5.      Bagaimana langkah-langkah metode simulasi?
6.      Apa saja kelebihan dan kekurangan metode simulasi?
7.      Bagaimana pengembangannya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam?
8.      Bagaimana pengaplikasiannya saat ini?


C.    Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Menjelaskan pengertian metode simulasi.
2.      Memaparkan tujuan dari metode simulasi.
3.      Memaparkan prinsip-prinsip dari metode simulasi.
4.      Menjelaskan bentuk-bentuk dari metode simulasi.
5.      Menjelaskan langkah-langkah metode simulasi.
6.      Memaparkan kelebihan dan kekurangan metode simulasi.
7.      Menjelaskan pengembangannya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
8.      Menjelaskan pengaplikasian metode simulasi saat ini.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Simulasi
Wojowasito dalam kamusnya memberikan batasan tentang simulasi, yaitu berasal dari kata “simulak”, yang artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah. Kata simulasi (simulation) diartikan: “tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja”. Seorang pendidik mensimulasikan sikap orang tua yang otoritas, berarti pendidik itu menunjukkan pada eserta pendidiknya, cara orang tua yang otoritas itu dalam menghadapi peserta didiknya dengan jalan berbuat seolah-olah sebagai orang tua yang otoriter.
Simulasi adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja (dari fakta simulate yang artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah dan simulation artinya tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja.[2]
Paul A. Twelker lebih menekankan pada tujuan yang dicapainya kegiatan dengan metode simulasi, yaitu ingin memperoleh esensi atau hakikat sesuatu; seperti bagaimana orang lain merasa berbuat.
Taylor dan Rex Walfors mengemukakan bahwa setiap bentuk kegiatan simulasi akan terjadi hal-hal sebagai berikut:
1.    Para pemain memegang peranan yang mewakili dunia peranan yang mewakili dunia kenyataan, dan juga membuat keputusa-keputusan dalam mereaksi penilaian mereka terhadap setting yang mereka temukan sendiri.
2.    Mereka mengalami perbuatan-perbuatan tiruan yang berhubungan dengan keputusan –keputusan mereka.
3.    Mereka monitor hasil-hasil kegiatan masing-masing dan diarahkan untuk merefleksi terhadap hubungan atara keputusan-keputusan sendiri dan konsekuensi-konsekuensi akhir dari berbagai perbuatan.
Dengan simulasi diharapkan, agar para pelaku dapat memperoleh kecakapan bersikap dan bertindak yang sesuai dengan situasi yang sebenarnya.
Jadi, metode simulasi ialah suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat dari sesuatu konsep atau prinsip, atau suatu keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi tiruan.

B.     Tujuan Simulasi
Rumusan tujuan simulasi merupakan pegangan bagi pendidik dalam memilih topic-topik dari mata pelajaran yang diajarkan/disimulasikan, antara lain adalah:

1.    Tujuan Langsung
a.       Untuk melatih keterampilan tertentu, baik yang bersifat professional maupun bagi kehidupan sehari-hari.
b.      Untuk memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip.
c.       Untuk melatih memecahkan masalah.

2.    Tujuan Tidak Langsung
a.       Untuk meningkatkan aktivitas belajar dengan melibatkan dirinya dalam mempelajari situasi yang hamper serupa dengan kejadian yang sebenarnya.
b.      Untuk memberikan motivasi belajar, karena sangat menarik dan menyenangkan peserta didik.
c.       Melatih bekerjasama peserta didik dalam kelompok dengan lebih efektif.
d.      Menimbulkaan dan memupuk daya kreaktif peserta didik.
e.       Melatih pesera didik untuk memahami dan menghargai pendapat serta peranan orang lain.

C.    Prinsip-Prinsip Simulasi
1.      Simulasi itu didlakukan oleh kelompok peserta didik, tiap kelompok mendapat kesempatan melaksanakan simulasi yang sama atau dapat juga berbeda.
2.      Semua siswa harus terlibat langsung menurut peranan masing-masing.
3.      Penentuan topik disesuaikan dengan tingkat kemampuan kelas, dibicarakan oleh siswa dan guru.
4.      Petunjuk simulasi diberikan terlebih dahulu.
5.      Dalam kegiatan simulasi hendaknya mencakup:
a)      Aspek cognitif: pengetahuan, konsep dan pengertian.
b)      Aspek efektif: menyenangkan, mengharukan, solidaritas dan sebagainya.
c)      Aspek psikomotor: keterampilan bertanya, memimpin dan melakukan sesuatu
6.      Harus diingat bahwa simulasi adalah untuk latihan keterampilan agar dapat menghadapi kenyataan dengan baik. 
7.      Pelakasanaan simulasi harus menggambarkan situasi yang lengkap dan proses yang berurutan yang diperkirakan terjadi dalam situasi yang sesungguhnya.
8.      Dalam kegiatan/pelaksanaan simulasi hendaknya dapat diusahakan terintergrasinya beberapa ilmu terjadinya proses sebab akibat, pemecahan masalah dan sebagainya.




  1. Bentuk-Bentuk Simulasi
Simulasi mempunyai bermacam-macam bentuk pelaksanaan ialah: pre-teaching, sociodrama, psikodrama, simulasi game dan role playing[3].

1.    Pre- teaching
Berguna untuk latihan mengajar oleh calon pendidik yang mana sebagai peserta didiknya adalah teman- teman calon pendidik sendiri.

2.      Sosiadrama
Permainan peranan yang diselenggarakan dimaksudkan untuk menentukan alternatif pemecahan sosial. Malahan hubungan saudaranya atau dengan orang tuanya.

3.      Psikodrama
Permainan peranan yang diselenggarakan dimaksudkan agar individu yang bersangkutan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, menemukan konsep diri, dapat menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan yang menimpa dirinya. Jadi tujuan psikodarma dilakukan untuk maksud terapi.

4.      Simulasi game
Adalah permainan peranan dimana para pemainnya berkompetensi untuk mencapai tujuan tertentu dengan mentaati peraturan-peraturan yang ditetapkan.

5.      Role playing
Permainan peranan yang diselenggarakan untuk mengkreasi kembali pristiwa-pristiwa sejarah, mengkreasi kemungkinan masa depan, mengekspose kejadian-kejadian masa kini dan sebagainya.
E.     Langkah-langkah Pelaksanan Simulasi
Proses simulasi tergantung pada peran guru/fasilitator. Ada empat prinsip yang harus dipegang oleh fasilitator/guru. Pertama, adalah penjelasan. Untuk melakukan simulasi, pemain harus benar-benar memahami aturan main. Oleh karena itu, guru/fasilitator hendaknya memberikan penjelasan dengan sejelas-jelasnya tentang aktivitas yang harus dilakukan berikut konsekuensi-konsekuensinya.
Kedua, adalah mengawasi (refereeing). Simulasi dirancang untuk tujuan tertentu dengan aturan dan prosedur main tertentu. Oleh karena itu guru/fasilitator harus mengawasi proses simulasi sehingga harus berjalan sebagimana seharusnya.
Ketiga, adalah melatih (coaching). Dalam simulasi, pemain/peserta akan mengalami kesalahan. Oleh karena itu, guru/fasilitator harus memberikan saran, petunjuk, atau arahan sehingga memungkinkan mereka tidak melakukan kesalahan yang sama.
Keempat, adalah diskusi. Dalam simulasi, refleksi menjadi sangat penting. Oleh karena itu, setelah simulasi selesai, fasilitator/guru mendiskusikan hal, seperti:
1.    Seberapa jauh simulasi sudah sesuai dengan situasi nyata (real world);
2.    Kesulitan-kesulitan;
3.    Hikmah apa yang diambil dari simulasi; dan
4.    Bagaimana memperbaiki/meningkatkan kemampuan simulasi, dan lain-lain.

Untuk tahapan pelaksanaan simulasi adalah sebagai berikut:
1.    Tahap pertama, pembelajaran simulasi adalah menyiapkan siswa menjadi pemeran simulasi;
2.    Tahap kedua, guru menyusun skenario dengan memperkenalkan siswa terhadap aturan, peran, prosedur, pemberi skor (nilai), tujuan permainan lain-lain. Guru mengatur siswa untuk memegang peran-peran tertentu dan mengujicobakan simulasi untuk memastikan bahwa seluruh siswa memahami prosedur dan aturan main simulasi tersebut;
3.    Tahap ketiga, adalah pelaksanaan dari simulasi itu sendiri. Siswa berpartisipasi dalam permainan atau simulais, sementara guru memainkan perannya. Pada saat-saat tertentu, kemungkinan ada interupsi apabila terjadi kesalahpahaman sehingga proses simulasi dapat berjalan kembali seperti seharusnya;
4.    Tahap terakhir adalah debriefing. Guru mendiskusikan tentang beberapa hal seperti yang telah dijelaskan diatas[4].


F.     Kelebihan dan Kekurangan Metode Simulasi
1.      Kelebihan
Simulator memiliki banyak kelebihan, diantaranya ialah:
a.       Siswa dapat mempelajari sesuatu yang dalam situasi nyata yang tidak dapat dilakukan karena kerumitannya atau karena faktor lain seperti risiko kecelakaan, bahaya, dan lain-lain;
b.      Memungkinkan siswa belajar dari umpan balik yang datang dari dirinya sendiri[5].
Simulasi memiliki kelebihan lain, yaitu:
a.       Aktivitasi simulasi menyenangkan peserta didik sehingga peserta didik secara wajar terdorong untuk partisipasi;
b.      Strategi ini menggalakan pendidik untuk mengembangkan aktivitas-aktivitas simulasi sendiri tanpa bantuan peserta didik;
c.       Memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya.
d.      Mengurangi hal-hal yang terlalu abstrak, sebab dikerjakan dalam bentuk aktivitas.
e.       Tidak memerlukan skil komunikasi yang pelik, dalam banyak hal peserta didik hanya memerlukan pengarahan yang simpel.
f.       Interaksi antara peserta didik memungkinkan timbulnya keakraban dan keutuhan yang sehat antara mereka.
g.      Strategi ini menimbulkan respon yang positif dari peserta didik yang lamban, kurang cakap dan kurang motivasinya.

2.      Kelemahan
a.      Efektivitasnya dalam memajukan proses belajar belum bisa dilaporkan oleh riset;
b.      Terlalu mahal misalnya membuat simulasi hanya untuk memotivasi;
c.       Dalam simulasi sering tidak diikutkan elemen-elemen penting, contoh: menyetir mobil (simulasi) tidak menyertakan lalulintass lainya, suara dan tanda-tanda lalulintas yang dijelaskan;
d.      Simulasi menghendaki pengelompokan peserta didik yang fleksibel;
e.       Simulasi menghendaki banyak imajinasi dari peserta didik dan pendidik;
f.        Sering mendatagkan kritik dari orang tua karna aktivitas ini melibatkan permainan[6].


G.    Pengembangannya dalam Pendidikan Agama Islam
Sesuai bentuk-bentuk simulasi di atas, setelah melakukan analisis terhadap Standar Kompetensi Pendidikan Agama Islam yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no 22 tahun 2006 tentang Standar isi satuan Pendidikan dasar dan menengah Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia no 2 tahun 2008 tentang standar kompetensi Lulusan dan Standar isi Pendidikan Agama Islam dan bahasa Arab di Madrasah, maka ada beberapa indikator pendidikan agama Islam yang dapat dicapai dengan metode simulasi, seperti terdapat SK/KD Sejarah Kebudayaan Islam dan Aqidah Akhlak. Bebrapa contoh Kompetensi dasar PAI di madrasah tsanawiyah adalah:
1.         Meneladani semangat para tokoh yang berperan dalam perkembangan Islam di Indonesia
2.         Meneladani sikap keperwiraan shalahuddin al-Ayyubi dalam kemajuan peradaban Islam pada masa dinasti al-ayyubiyah
3.         Meneladani ketekunan dan kegigihan bani Abbasiyah
4.         Meneladani kesederhanaan dan keshalehan Umar bin abdul Aziz
5.         Meneladani perjuangan nabi dan para sahabat dalam menghadapi masyarakat makkah
6.         Simulasi penyelenggaraan jenazah
7.         Simulasi tatacara pinjam meminjam, utang piutang, gadai, borg, serta pemberian upah menurut Islam
8.         Simulasi Pelaksanaan jual beli menurut Islam
9.         Simulasi tata cara pelaksanaan qurban dan kekah
10.     Simulasi pelaksanaan ibadah haji dan Umrah
11.     Simulasi Pelaksanaan zakat fitrah dan zakat mal
12.     Simulasi Perilaku kerja keras, kreatif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari
13.     Sejarah kebudayaan Islam
14.     Abrahah yang sombong, dan lain-lain.
Beberapa contoh topik di atas menurut penulis dapat dilakukan dengan metode simulasi dengan digabungkan dengan beberapa metode lain. Sehingga pembelajaran itu dapat dilaksanakan  oleh peserta didik sesuai dengan kehidupan nyata. Namun tentu saja dalam pelaksanaannya perlu persiapan dan diskusi yang lebih mendalam sesuai teori simulasi dan ruanglingkup topik yang akan di bahas.
Sebuah contoh sosiodrama yang masih ada hubungannya dengan sejarah Kebudayaan Islam sebelum lahirnya nabi Muhammad SAW, tentang “Abrahah yang sombong” dapat penulis kemukakan, sebagaimana yang ditulis oleh Munif Chatib: seorang peserta didik yang ditunjuk menjadi host membacakan skenario berikut:
Matahari hampir terbenam, ketika kelelahan memuncak pada semua anggota pasukan yang sudah berjalan berhari-hari. Ringkikan kuda yang ingin beristirahat, lenguhan pasukan gajah yang mulai gelisah, ,membuat jendera Abrahah, pemimpin pasukan itu, memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di sebuah lembah di padang pasir hijaz”.
Lalu Abrahah memberi instruksi kepada pengawalnya;
Pengawal, perintahkan kepada semua pasukan, untuk berhenti, kita akan membuka tenda dan bermalam di sini. Amankan pasukan gajah kita yang mulai gelisah sebab binatang-binatang itu kelak yang akan menghancurkan ka’bah. Esok pagi kita akan melanjutkan perjalanan. Makkah sudah dekat, hanya tinggal setengah hari perjalanan. Cepat pengawal, segera kerjakan.”

            “Baik paduka secepat kilat hamba laksanakan”

Jawab pengawal sambil menundukkan kepala. Lalu:

“Hai .. Abrahah! Majulah dengan pasukan gajahmu itu, kami penduduk makkah yang mencintai ka’bah akan melawan dengan pasukan-pasukan Allah”
Teriak peserta didik yang berperan sebagai penduduk makkah ketika melakukan metode sosiodram yang merupakan bagian dari bentuk simulasi.

Interupsi, masak Abrahah ngomongnya pelan kayak putri salju, semangat dong…kan dia jenderal besar!”

interupsi dari salah satu peserta didik yang menonton kala mendengar suara abrahah yang sangat pelan. Interupsi ini diiringi derai tawa siswa seisi kelas, tercipta emosi positif dalam kelas tersebut.

“Hei Abrahah.. ngapain sih pake pergi ke Makkah menghancurkan ka’bah?kenapa sish tidak membangun ka’bah sendiri di Yaman sana?” tanya siswa penonton.

“ah, percuma… saya sudah coba berkali-kali, ..gagal terus. Habis di yaman sepi, nggak ada orang datang, tidak seperti di Makkah yang selalu ramai didatangi orang” sang Abrahah menjawab lantang.

Tokoh-tokoh dalam drama tersebut dimainkan oleh beberapa peserta didik dengan redaksi skenario yang sudah disiapkan oleh guru. Ada yang menjadi Abrahah gubernur Yaman yang berniat menghancurkan ka’bah. Abdul Muthalib, pemimpin Makkah pada saat itu, ada juga kurir, pemuka-pemuka makkah lainnya. Kemudia adalagi peran utama yang cukup penting dan berfungsi sebagai “Cutter” atau pemutus cerita, biasanya disebut “Host” (pengantar cerita).
Kepada beberapa siswa yang tidak dapat peran, dibagaikan secarik kertas berisi pertanyaan dan masalah yang terkait dengan materi perang gajah tersebut. sebagai penonton, para siswa dapat menginterupsi saat drama berlangsung, baik untuk bertanya maupun memberikan opini, persis seperti Lenong Betawi atau Opera Van Java[7].
Contoh Materi lain yang dapat digunakan dengan metode Simulasi – sosiodrama-  dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dapat dilihat Adegan tentang Perang Khandaq: dalam suatu ruangan di Darul Nadwan, berkumpullah orang-orang musyrik, di antar mereka ada Abu Syufian. Bersama mereka ada seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir yaitu Huyay bin Akhtab dan beberapa orang Yahudi lainnya.

Abu Sufyan   :
Wahai orang Quraisy, apakah kamu telah mendengar berita yang disampaikan pemimpin Bani Nadhir yaitu Huyaybin Akhtab, mengenai ancaman dan bahaya   yang dihadapi oleh kaumnya karena ulah Muhammad dan sahabat-sahabatnya?   Beliau meminta bantuan kalian , sebagaimana akan kalian dengar sendiri nanti.   Maksudnya tidak lain ialah untuk mengingatkan kalian terhadap bahaya   ancaman Muhammad  dan sahabat-sahabatnya kepada kalian. Nah ..silakan  tuan Huyay ceritakan  kepada mereka.  Katakanlah apa yang terkandung dalam   hati anda.
Huyay           : 
Saya ini bukanlah sendirian wahai Abu Sufyan. Bersamaku ada sekelompok saudara-saudaraku yang sesuku. Ini adalah Salmam Al-Nadhariy dan ini Kinanah bin Rabi’ dan itu Hudzah bin Qus. Semua mereka itu akan menceritakan ancaman dan bahaya yang akan ditimpakan oleh Muhammad kepada kami.
Sallam          :
: Anda sajalah yang menceritakan, hai Huyay, karena Anda lebih pantas menerangkannya kepada orang-orang Quraisy.
Huyay          :
Wahai orang-orang Quraisy, kalian adalah pemimpin dan panglima-panglima bangsa Arab. Tidaklah bijaksana sedikitpun, bila kalian membiarkan bahaya Muhammad semakin memuncak dan kekuatannya semakin mantab, sehaingga ia berani menyerang dan membunuhmu di rumahmu sendiri.
Musyrik I      :
Saya sependapat dengan apa yang dikemukakan pemimpin Bani Nadhir ini. Oleh karena itu pikirkanlah sebaik-baikny tindakan apa yang harus di ambil. Saya sependapat dengan apa yang dikemukakan pemimpin Bani Nadhir ini. Oleh karena itu pikirkanlah sebaik-baikny tindakan apa yang harus di ambil.
Musyrik II    :
  Bagaimana pendapat Anda, Huyay?
Huyay          :
Sikap saya sama dengan sikap-sikap Anda. Saya hanya ingin agar kalian hidup dalam keadaan aman dan sejahtera. Saya berharap agar kalian dapat mengambil inisiatif di kalangan kabilah-kabilah  Arab lainnya kami Bani Nadhir akan menanti di tangan kaalian.
Kinanah bin Rabi’            :
Benar demi Allah,memang mereka lebih panas dari bara api. Mereka akan berada di samping kalian sampai mati atau Muhammad dan pengikut-pengikutnya lenyap dari muka bumi.
Musyrik III    :
Wahai Huyay, bagaimana pendapatmu, apakah agama kami yang lebih baik atau agama Muhammad?
Huyay           :
Agamamu lebih baik dari pada agama Muhammad.
Abu Sufan     :
Ya, memang benar perkataan Tuan. Wahai, orang-orang Quraisy. Sudah tiba saatnya kepada kalian untuk membantu orang yang meminta pertolongan kepada kalian.
Musyrik IV    :
Sungguh benar Anda, hai Abu Sufyan. Oleh karena itu umumkanlah kepada rakyat kita untuk mempersiapkan diri dengan alat persenjataannya.
Abu Sufyan
Ya baiklah demi Tuhan Ka’bah.
Huyay            :
Wahai Abu Sufyan, kami akan mengajak lagi beberapa kabilah Arab untuk mendampingi kalian, sampai kalian mengalahkan si Muhammad.
Abu Sufyan    :
Kalau demikian akan berkumpul di pihak kita tentara yang tidak mungkin diimbangi Muhammaad. Dia akan kalah dan akan musnah tanpa bekas.
Huyay            :
  Sebenarnyalah ini yang saya inginkan dan harap-harapkan, semoga berhasil.  Walaupun demikian kebijakasanaan  pada orang-orang aQuraisy. Semangat para pemuda dan rasa bertanggung jawabnya terhadap kelangsungan agama nenek moyang mereka.
Musyrik         :
 Demi Tuhan Ka’bah, sungguh benar demikian. Kita benar-benar menanti hari seperti ini.
Abu Sufyan    :
 Marilah kita mempersiapkan perbekalan dan alat persenjataan.
Musyrik I      :
  Sungguh tepat. Si Muhammad tidak akan lolos dari tangan kita untuk selama-lamanya.
Hadirin semua tertawa  : Ha…ha…ha…, kemudian mereka keluar ruangan.

H.    Aplikasi
Permainan simulasi dapat merangsang berbagai bentuk belajar, seperti belajar tentang kompetisi, kerjasama, empati, social, konsep, keterampilan, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan lain-lain.
Namun, metode ini agak rumit, tergantung pada pengembangan simulasi yang tepat, baik yang melibatkan peneliti, pengembang (sistem analisis, programmer, dan lain-lain), perusahaan komersial, guru atau kelompok guru, dan lain-lain. Dewasa ini dengan semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi telah tersedia banyak permainan simulasi mrncakup berbagai kebutuhan dan topic dari berbagai disiplin ilmu.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Metode simulasi adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja (dari fakta simulate yang artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah dan simulation artinya tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja). Simulasi digunakan agar peserta didik dapat menguasai suatu keterampilan tertentu dan memahaminya karena peserta didik mempraktikannya sendiri dengan alat-alat yang telah disediakan oleh pendidik sebagai fasilitator.
Ada beberapa bentuk dari metode simulasi, antara lain: role playing, psikodrama, sosiodrama, simulation game, dan pre-teaching.



DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta: Jakarta, 2010.

Hasibuan, Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya: Bandung, 2002.

N. K. Rostiyah, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta: Jakarta, 2008.

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Kalam Mulia: Jakarta, 2005.

Uno, Hamzah B., Model Pembelajaran, Bumi Aksara: Jakarta, 2012.




[1] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Rineka Cipta: Jakarta, 2010), hlm. 72
[2] Hasibuan dam Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Remaja Rosdakarya: Bandung, 2002), cet, ix, hlm 27-29.
[3] Rostiyah N. K., Strategi Belajar Mengajar, (Rineka Cipta: Jakarta, 2008), cet. VII, hlm. 22.
[4] Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran, (Bumi Aksara: Jakarta, 2012), hlm. 29-30.
[5] Ibid., 29
[6] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Kalam Mulia: Jakarta, 2005), hlm.381-386.

No comments:

Post a Comment