BAB
II
PEMBAHASAN
METODE PERAN
(SOSIODRAMA)
A.
Pengertian
Metode Peran
Metode
bermain peran ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui imajinasi
penghayatan ini dilakukan siswa dengan memerankan dirinya sendiri sebagai tokoh
hidup atau benda mati karena kegiatan memerankan akan membuat siswa lebih
meresapi perolehannya.
Sosio drama berasal
dari kata sosio yang artinya masyarakat, dan drama yang artinya keadaan orang
atau peristiwa yang dialami orang, sifat dan tingkah lakunya, hubungan seseorang,
hubungan seseorang dengan orang lain dan sebagainya.[1]
Bermain peranan artinya
memegang fungsi. Sosio drama, dan bermain peranan dapat dipakaikan sebagai
suatu metode dalam mengajar.
Dengan demikian metode
sosiodrama dan bermain peranan ialah penyajian bahan dengan cara memperlihatkan
peragaan, baik dalam bentuk uraian maupun kenyataan. Semuanya berbentuk
tingkahlaku dalam hubungan sosio yang kemudian diminta beberapa orang peserta
didik untuk memerankannya.
Jadi, kedua metode itu
sejalan atau sekali lalu dan karenanya biasa disebut dengan metode sosio drama
saja.
Metode ini sebagai prinsip
dasarnya terdapat di dalam Al-Qur’an, dimana terjadinya suatu drama yang sangat
mengesankan antara Qabil dan Habil (Q.S. Al-Maidah : 27-31)
Drama atau sandiwara
dilakukan oleh sekelompok orang, untuk memainkan suatu cerita yang telah
disusun naskah ceritanya dan di pelajari sebelum dimainkan. Adapun para
pelakunya harus memahami lebih dahulu tentang peranan masing-masing yang akan
di bawakannya.
Metode sosiodrama
adalah juga semacam drama atau sandiwara, akan tetapi tidak di siapkan
naskahnya terlebih dahulu.
Tidak pula diadakan
pembagian tugas yang harus mengalami latihan lebih dahulu, tapi dilaksanakan
seperti sandiwara di panggung dengan tujuan :
1. Agar
anak didik mendapatkan ketrampilan sosial hingga diharapkan nantinya tidak
canggung menghadapi situasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menghilangkan
perasaan-perasaan malu dan rendah diri yang tidak pada tempatnya, maka ia
dilatih melalui temannya sendiri untuk berani berperan dalam sesuatu hal. Hal
ini disebabkan karena memang ada anak didik yang di suruh ke depan kelas saja
tidak berani apalagi berbuat suatu seperti bicara di depan orang dan
sebagainya.
3. Mendidik
dan mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan pendapat di depan teman sendiri
atau orang lain.
4. Membiasakan
diri untuk sanggup menerima dan menghargai pendapat orang lain.
Metode sosiodrama ini
akan lebih banyak berpengaruh terhadap perubahan sikap kepribadian anak didik. Kesan
dari drama yang dimainkannya sendiri akan besar pengaruhnya kepada perkembangan
jiwa anak didik baik yang langsung berperan dalam sandiwara, maupun yang
menyaksikan.
B.
Langkah-langkah
dalam Metode Peran
Pelaksanaan
peranan dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Persiapan
Mempersiapkan
masalah situasi hubungan sosial yang akan diperagakan atau pemilihan tema
cerita. Pada kesempatan ini pula menjelaskan mengenai peranan-peranan yang
dimainkan, pelaksanaan peran/sosiodrama dan tugas-tugas bagi mereka yang tidak
ikut berperan (penonton).
2. Penentuan
pelaku atau pemeran
Setelah
mengemukakan tema cerita serta memberi dorongan kepada peserta didik-peserta
didik untuk bermain peranan, maka diadakanlah penentuan para pelaku dan
menjelaskan bilamana dan betapa harus memulai melakukan peran. Para pelaku
diberi petunjuk atau contoh sederhana agar mereka siap mental.
3. Permainan
peran
Para
pelaku memainkan peranannya sesuai dengan imaginasi atau daya tanggap
masing-masing, sampai pada suatu klimaks tertentu atau suatu titik kulminasi (puncak)
perdebatan yang hangat.
4. Diskusi
Permainan
dihentikan, para pemeran dipersilahkan
duduk kembali, kemudian dilanjutkan dengan diskusi di bawah pimpinan pendidik
yang diikuti oleh semua peserta didik (kelas). Diskusi berkisar pada tingkah
laku para pemeran dalam hubungannya dengan tema cerita, sehingga terhadirlah
suatu pembicaraan berupa tanggapan, pendapat dan beberapa kesimpulan.
5. Ulangan
permainan
Setelah
diskusi selesai dilakukan ulangan permainan atau bermain peranan ulangan dengan
memperhatikan pendapat, saran-saran atau kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh
dari hasil diskusi.
C.
Kelebihan
Metode Peran (Sosiodrama)
Keuntungan-keuntungan /
kebaikan-kebaikan yang diperoleh dengan melaksanakan metode peran :
1.
Untuk mengajar peserta
didik supaya ia bisa menempatkan dirinya dengan orang lain.
Dengan
peran setiap peserta didik diberi tugas memerankan hal-hal yang sesuai dengan
kemampuannya. Sehingga dalam pelaksanaan tersebut setiap anak merasa
bertanggung jawab terhadap pelaksanaannya.
Dan
pelaksanaan peran selalu sangkut menyangkut antara satu peserta didik dengan
peserta didik yang lain sehingga dengan cara yang demikian peserta didik akan
merasakan bagaimana perasaan orang lain yang betul-betul merasakan sesuai
dengan yang diperankan.
2.
Pendidik dapat
melihat kenyataan yang sebenarnya dari kemampuan peserta didik.
Kalau
dalam belajar kadang-kadang pendidik hanya mengetahui kemampuan peserta didik
dengan jalan observasi saja, sehingga pendidik tidak bisa melihat dengan
sebenarnya sampai dimana kemampuan peserta didik dalam memainkan peranan yang
dipegangnya.
3.
Permainan
peranan menimbulkan diskusi yang hidup.
Sesudah
permainan peranan dilaksanakan, ini akan menimbulkan diskusi yang hidup. Bukan
saja bagi permainan peranan tapi juga bagi penonton. Terutama sekali kalau yang
diperankan itu masalah menarik bagi peserta didik atau masalah yang hangat
diicarakan. Penonton yang selalu mengikuti permainan peranan bukan saja pasif
menerima apa yang diperankan oleh pemain-pemainnya tapi juga mereka akan
melakukan kritik dan saran terhadap kekurangan yang ditemui dalam semua peranan
yang dimainkan.
4.
Peserta didik
akan mengerti sosial psychologis
Dalam
peranan peserta didik tentunya akan berhadapan dengan masalah yang berhubungan
dengan kehidupan manusia. Tentu saja dalam pelaksanaannya peserta didik akan
memecahkan masalah-masalah yang ada hubungannya sesama manusia tersebut. Apakah
latar belakang kejadian tersebut¸ Bagaimana cara mengatasinya dan sebagainya.
5.
Metode peranan
dapat menarik minat peserta didik
Bukan
saja karena metode ini merupakan metode yang baru, tpi juga dalam metode ini
peserta didik akan dapat menemui bermacam-macam pengalaman yang berguna dalam
kehidupan mereka sehari-hari.
6.
Melatih peserta
didik untuk berinisiatif dan berkreasi
Dalam
metode ini peserta didik-peserta didik di tuntut mengeluarkan pendapatnya pada
waktu menyelesaikan drama, dan disamping itu mereka juga dapat mengembangkan
daya fantasinya dalam peran yang diinginkannya.
D.
Kekurangan
Metode Peran (Sosiodrama)
Kelemahan-kelemahan/kekurangan-kekurangan
metode peran adalah sebagai berikut :
1.
Sukar untuk
memilih anak-anak yang betul-betul berwatak untuk memecahkan masalah tersebut.
Dalam
pelaksanaan metode ini peranan yang diperankan oleh tiap-tiap anak hendaknya
betul-betul dilaksanakan seperti apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini tentu saja tidak akan bisa dilaksanakan kecuali oleh peserta
didik yang betul-betul berbakat dan mempunyai watak dalam pemecahan tersebut.
Peserta didik yang demikian sulit mencarinya.
2.
Perbedaan adat
istiadat kebiasaan dan kehidupan-kehidupan dalam suatu masyarakat akan
mempersulit pelaksanaannya.
Dalam
peran kadang-kadang perasaan orang lain tersinggung. Hal ini dipengaruhi oleh
perbedaan tersebut di atas. Walaupun bagaimana baiknya suatu peran
dilaksanakan, suatu pihak mungkin akan tersinggung walaupun banyak yang tak
satupun pihak di dalam masyarakat kan tersinggung, sehingga tujuan dari peran
di atas dicapai dengan baik.
3.
Anak-anak yang
tidak mendapat giliran akan menjadi pasif.
Dalam
peran tidak semua dapat diikut sertakan apalagi peserta didik yang tidak
mempunyai watak dan bakat tentang hal itu, karena tugasnya hanya sekedar
mengikuti jalan peran saja.
4.
Kalau metode ini
dipakainya untuk tujuan yang tidak layak.
Setiap
metode yang dipakai ada suatu tujuan yang harus dicapai terutama sekali tujuan
yang berhubungan dengan persoalan cara bertingkah laku dalam kehidupan
kelompok. Oleh sebab itu jangan dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan yang
bertentangan dengan tujuan di atas, seperti mendramakan suatu sifat sadis,
balas dendam dan sebagainya.
5.
Kalau pendidik
kurang bijaksana tujuan yang dicapai tidak memuaskan.
Untuk
mencapai kesuksesan dalam pelaksanaannya ada langkah-langkah yang harus
dituruti oleh peserta didik. Oleh sebab itu pendidik harus memberikan
pengertian yang mendalam terhadap anak-anak.
Apabila
pendidik tidak memberikan pengertian tentang langkah-langkah yang harus
ditempuh, maka peran akan terlaksana secara serampangan saja sehingga hasil
yang dicapai tidak memuaskan.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Metode
bermain peran ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui imajinasi
penghayatan ini dilakukan siswa dengan memerankan dirinya sendiri sebagai tokoh
hidup atau benda mati karena kegiatan memerankan akan membuat siswa lebih
meresapi perolehannya.
Metode ini sebagai
prinsip dasarnya terdapat di dalam Al-Qur’an, dimana terjadinya suatu drama
yang sangat mengesankan antara Qabil dan Habil (Q.S. Al-Maidah : 27-31)
Hal-hal yang patut
diperhatikan dalam pelaksanaan peran :
1. Masalah
yang dijadikan tema cerita hendaknya dialami oleh sebagian besar peserta
didik-peserta didik.
2. Penentuan
pemeran hendaknya secara sukarela dan motivasi dari pendidik.
3. Jangan
terlalu banyak “disutradarai”, biarkan peserta didik mengembangkan kreatifitas
dan spontanitas mereka.
4. Diskusi
diarahkan kepada penyelesaian akhir (tujuan), bukan kepada baik atau tidaknya
seseorang peserta didik berperan.
5. Peran
bukanlah sandiwara atau drama biasa, melainkan merupakan peranan situasi social
yang ekspresif dan hanya dimainkan satu babak saja.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Ramayulis, Teknik-Teknik Mengajar
Pendidikan Agama Islam, (Batusangkar : STAIN My. Press, 2000), h. 24
No comments:
Post a Comment