Wednesday, 10 June 2015

METODE PERAN (SOSIODRAMA)



BAB II
PEMBAHASAN


METODE PERAN (SOSIODRAMA)


A.      Pengertian Metode Peran

Metode bermain peran ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui imajinasi penghayatan ini dilakukan siswa dengan memerankan dirinya sendiri sebagai tokoh hidup atau benda mati karena kegiatan memerankan akan membuat siswa lebih meresapi perolehannya.
Sosio drama berasal dari kata sosio yang artinya masyarakat, dan drama yang artinya keadaan orang atau peristiwa yang dialami orang, sifat dan tingkah lakunya, hubungan seseorang, hubungan seseorang dengan orang lain dan sebagainya.[1]
Bermain peranan artinya memegang fungsi. Sosio drama, dan bermain peranan dapat dipakaikan sebagai suatu metode dalam mengajar.
Dengan demikian metode sosiodrama dan bermain peranan ialah penyajian bahan dengan cara memperlihatkan peragaan, baik dalam bentuk uraian maupun kenyataan. Semuanya berbentuk tingkahlaku dalam hubungan sosio yang kemudian diminta beberapa orang peserta didik untuk memerankannya.
Jadi, kedua metode itu sejalan atau sekali lalu dan karenanya biasa disebut dengan metode sosio drama saja.
Metode ini sebagai prinsip dasarnya terdapat di dalam Al-Qur’an, dimana terjadinya suatu drama yang sangat mengesankan antara Qabil dan Habil (Q.S. Al-Maidah : 27-31)
Drama atau sandiwara dilakukan oleh sekelompok orang, untuk memainkan suatu cerita yang telah disusun naskah ceritanya dan di pelajari sebelum dimainkan. Adapun para pelakunya harus memahami lebih dahulu tentang peranan masing-masing yang akan di bawakannya.
Metode sosiodrama adalah juga semacam drama atau sandiwara, akan tetapi tidak di siapkan naskahnya terlebih dahulu.
Tidak pula diadakan pembagian tugas yang harus mengalami latihan lebih dahulu, tapi dilaksanakan seperti sandiwara di panggung dengan tujuan :
1.      Agar anak didik mendapatkan ketrampilan sosial hingga diharapkan nantinya tidak canggung menghadapi situasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Menghilangkan perasaan-perasaan malu dan rendah diri yang tidak pada tempatnya, maka ia dilatih melalui temannya sendiri untuk berani berperan dalam sesuatu hal. Hal ini disebabkan karena memang ada anak didik yang di suruh ke depan kelas saja tidak berani apalagi berbuat suatu seperti bicara di depan orang dan sebagainya.
3.      Mendidik dan mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan pendapat di depan teman sendiri atau orang lain.
4.      Membiasakan diri untuk sanggup menerima dan menghargai pendapat orang lain.

Metode sosiodrama ini akan lebih banyak berpengaruh terhadap perubahan sikap kepribadian anak didik. Kesan dari drama yang dimainkannya sendiri akan besar pengaruhnya kepada perkembangan jiwa anak didik baik yang langsung berperan dalam sandiwara, maupun yang menyaksikan.


B.       Langkah-langkah dalam Metode Peran

Pelaksanaan peranan dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Persiapan
Mempersiapkan masalah situasi hubungan sosial yang akan diperagakan atau pemilihan tema cerita. Pada kesempatan ini pula menjelaskan mengenai peranan-peranan yang dimainkan, pelaksanaan peran/sosiodrama dan tugas-tugas bagi mereka yang tidak ikut berperan (penonton).

2.      Penentuan pelaku atau pemeran
Setelah mengemukakan tema cerita serta memberi dorongan kepada peserta didik-peserta didik untuk bermain peranan, maka diadakanlah penentuan para pelaku dan menjelaskan bilamana dan betapa harus memulai melakukan peran. Para pelaku diberi petunjuk atau contoh sederhana agar mereka siap mental.

3.      Permainan peran
Para pelaku memainkan peranannya sesuai dengan imaginasi atau daya tanggap masing-masing, sampai pada suatu klimaks tertentu atau suatu titik kulminasi (puncak) perdebatan yang hangat.

4.      Diskusi
Permainan dihentikan, para  pemeran dipersilahkan duduk kembali, kemudian dilanjutkan dengan diskusi di bawah pimpinan pendidik yang diikuti oleh semua peserta didik (kelas). Diskusi berkisar pada tingkah laku para pemeran dalam hubungannya dengan tema cerita, sehingga terhadirlah suatu pembicaraan berupa tanggapan, pendapat dan beberapa kesimpulan.

5.      Ulangan permainan
Setelah diskusi selesai dilakukan ulangan permainan atau bermain peranan ulangan dengan memperhatikan pendapat, saran-saran atau kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari hasil diskusi.  






C.      Kelebihan Metode Peran (Sosiodrama)

Keuntungan-keuntungan / kebaikan-kebaikan yang diperoleh dengan melaksanakan metode peran :
1.      Untuk mengajar peserta didik supaya ia bisa menempatkan dirinya dengan orang lain.
Dengan peran setiap peserta didik diberi tugas memerankan hal-hal yang sesuai dengan kemampuannya. Sehingga dalam pelaksanaan tersebut setiap anak merasa bertanggung jawab terhadap pelaksanaannya.
Dan pelaksanaan peran selalu sangkut menyangkut antara satu peserta didik dengan peserta didik yang lain sehingga dengan cara yang demikian peserta didik akan merasakan bagaimana perasaan orang lain yang betul-betul merasakan sesuai dengan yang diperankan.

2.      Pendidik dapat melihat kenyataan yang sebenarnya dari kemampuan peserta didik.
Kalau dalam belajar kadang-kadang pendidik hanya mengetahui kemampuan peserta didik dengan jalan observasi saja, sehingga pendidik tidak bisa melihat dengan sebenarnya sampai dimana kemampuan peserta didik dalam memainkan peranan yang dipegangnya.

3.      Permainan peranan menimbulkan diskusi yang hidup.
Sesudah permainan peranan dilaksanakan, ini akan menimbulkan diskusi yang hidup. Bukan saja bagi permainan peranan tapi juga bagi penonton. Terutama sekali kalau yang diperankan itu masalah menarik bagi peserta didik atau masalah yang hangat diicarakan. Penonton yang selalu mengikuti permainan peranan bukan saja pasif menerima apa yang diperankan oleh pemain-pemainnya tapi juga mereka akan melakukan kritik dan saran terhadap kekurangan yang ditemui dalam semua peranan yang dimainkan.


4.      Peserta didik akan mengerti sosial psychologis
Dalam peranan peserta didik tentunya akan berhadapan dengan masalah yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Tentu saja dalam pelaksanaannya peserta didik akan memecahkan masalah-masalah yang ada hubungannya sesama manusia tersebut. Apakah latar belakang kejadian tersebut¸ Bagaimana cara mengatasinya dan sebagainya.

5.      Metode peranan dapat menarik minat peserta didik
Bukan saja karena metode ini merupakan metode yang baru, tpi juga dalam metode ini peserta didik akan dapat menemui bermacam-macam pengalaman yang berguna dalam kehidupan mereka sehari-hari.

6.      Melatih peserta didik untuk berinisiatif dan berkreasi
Dalam metode ini peserta didik-peserta didik di tuntut mengeluarkan pendapatnya pada waktu menyelesaikan drama, dan disamping itu mereka juga dapat mengembangkan daya fantasinya dalam peran yang diinginkannya.


D.      Kekurangan Metode Peran (Sosiodrama)

Kelemahan-kelemahan/kekurangan-kekurangan metode peran adalah sebagai berikut :
1.      Sukar untuk memilih anak-anak yang betul-betul berwatak untuk memecahkan masalah tersebut.
Dalam pelaksanaan metode ini peranan yang diperankan oleh tiap-tiap anak hendaknya betul-betul dilaksanakan seperti apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini tentu saja tidak akan bisa dilaksanakan kecuali oleh peserta didik yang betul-betul berbakat dan mempunyai watak dalam pemecahan tersebut. Peserta didik yang demikian sulit mencarinya.

2.      Perbedaan adat istiadat kebiasaan dan kehidupan-kehidupan dalam suatu masyarakat akan mempersulit pelaksanaannya.
Dalam peran kadang-kadang perasaan orang lain tersinggung. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan tersebut di atas. Walaupun bagaimana baiknya suatu peran dilaksanakan, suatu pihak mungkin akan tersinggung walaupun banyak yang tak satupun pihak di dalam masyarakat kan tersinggung, sehingga tujuan dari peran di atas dicapai dengan baik.

3.      Anak-anak yang tidak mendapat giliran akan menjadi pasif.
Dalam peran tidak semua dapat diikut sertakan apalagi peserta didik yang tidak mempunyai watak dan bakat tentang hal itu, karena tugasnya hanya sekedar mengikuti jalan peran saja.

4.      Kalau metode ini dipakainya untuk tujuan yang tidak layak.
Setiap metode yang dipakai ada suatu tujuan yang harus dicapai terutama sekali tujuan yang berhubungan dengan persoalan cara bertingkah laku dalam kehidupan kelompok. Oleh sebab itu jangan dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan yang bertentangan dengan tujuan di atas, seperti mendramakan suatu sifat sadis, balas dendam dan sebagainya.

5.      Kalau pendidik kurang bijaksana tujuan yang dicapai tidak memuaskan.
Untuk mencapai kesuksesan dalam pelaksanaannya ada langkah-langkah yang harus dituruti oleh peserta didik. Oleh sebab itu pendidik harus memberikan pengertian yang mendalam terhadap anak-anak.
Apabila pendidik tidak memberikan pengertian tentang langkah-langkah yang harus ditempuh, maka peran akan terlaksana secara serampangan saja sehingga hasil yang dicapai tidak memuaskan.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Metode bermain peran ialah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui imajinasi penghayatan ini dilakukan siswa dengan memerankan dirinya sendiri sebagai tokoh hidup atau benda mati karena kegiatan memerankan akan membuat siswa lebih meresapi perolehannya.
Metode ini sebagai prinsip dasarnya terdapat di dalam Al-Qur’an, dimana terjadinya suatu drama yang sangat mengesankan antara Qabil dan Habil (Q.S. Al-Maidah : 27-31)
Hal-hal yang patut diperhatikan dalam pelaksanaan peran :
1.      Masalah yang dijadikan tema cerita hendaknya dialami oleh sebagian besar peserta didik-peserta didik.
2.      Penentuan pemeran hendaknya secara sukarela dan motivasi dari pendidik.
3.      Jangan terlalu banyak “disutradarai”, biarkan peserta didik mengembangkan kreatifitas dan spontanitas mereka.
4.      Diskusi diarahkan kepada penyelesaian akhir (tujuan), bukan kepada baik atau tidaknya seseorang peserta didik berperan.
5.      Peran bukanlah sandiwara atau drama biasa, melainkan merupakan peranan situasi social yang ekspresif dan hanya dimainkan satu babak saja.






DAFTAR PUSTAKA




[1] Ramayulis, Teknik-Teknik Mengajar Pendidikan Agama Islam, (Batusangkar : STAIN My. Press, 2000), h. 24

No comments:

Post a Comment